Saturday, June 18, 2011

poligami?

KARENA KAU SAHABATKU “Han, aku tidak bisa melakukan semua ini.”, kataku sendu. “Ra, siapa sih yang mau seperti Ini. Biarpun Hanna tidak bisa memberiku keturunan, tapi aku benar-benar mencintainya dengan sepenuh hatiku. Tak pernah terbesit sedikitpun di hatiku tuk berbagi cinta dengan orang lain selain dia. Biarpun itu denganmu, masa laluku.”, jawabnya. “Farhan, aku tidak mau menyakiti mas fahri.”, kataku lagi. “Maafkan sikap istriku ya ra.”, pintanya. “Aku juga meyayangi sahabatku.”, jawabku sambil menutup telepon tanpa salam. Aku hanya terdiam. Esok aku akan berbagi cinta dengan suami sahabatku, masa laluku dulu. Dan aku juga akan menyakiti seseorang yang telah lama ku tunggu dan ku cintai. Sahabat terbaiku yang telah lebih dulu menikah, tiga tahun yang lalu. Kini ia akan menjadi saudara, istri seniorku. Aku akan menjadi seorang istri muda dari suaminya. “ Ya Alloh, maafkanlah sikapku jika dalam keputusan yang aku ambil ini ada seseorang yang tersakiti.”, doaku dalam hati. “Ra, kamu sudah siap? Yuk kita keluar, bang han sudah siap.”, hanna mengangetkanku dari lamunan. “Eh! Hanna, iya sudah.”, jawabku sambil mengusap sisa-sisa air mata. “Ra, kenapa kamu menangis. Maafkan aku yah ra, aku harus memaksamu melakukan semua ini.” “Tidak apa-apa hanna, aku baik-baik saja ko. Asalkan kamu bahagia, aku pasti bahgia. Kita akan saling membantu jka diantara kita butuh bantuan. Kita khan sahabat selamanya.” “Ra, kamu memang sahabat terbaiku. Mas fahri pasti sangat bangga memilikimu. Tapi maaf sekarang kamu jadi milik kami berdua dulu yah. Makasih banget yah sayangku.”, katanya sambil memeluku erat. Tiba-tiba dering pribadi di hp-ku berbuyi. “Katamu kamu cinta kepadaku selamanya, katamu kamu rindu kepadaku selalu, tapi mengapa aku masih ragu. Katamuaku ini cinta terakhir kamu, katamu aku ini cinta dalam hidupmu, tapi mengapa aku masih ragu.” Aku sangat faham dering ini, dering khusus mas fahri. “Assalamu’alaikum mas.” “Wa’alaikumussalam, maaf ini dengan ibu Aira?”, jawab orang di sebrang sana. Bukan suara mas fahri. Aku mulai cemas, apa yang terjadi? “Iyah, ada apa yah? Apa yang terjadi dengan pemilik nomor ini?”, tanyaku cemas. “Ini dengan kantor polisi. Saudara Fahri Yusuf Akbar mengalami musibah, motornya tertabrak sebuah mobil. Sekarang jenazahnya sedang diotopsi di rumah sakit Hasan Sadikin.” Aku lemas, kupeluk sahabatku erat. Kenapa semua ini menimpaku ya Alloh. Apakah ini jawaban dari perkataan mas fahri tadi pagi, bahwa ia telah mengikhlaskanku, bahwa ia telah menitipkanku pada mas farhan, suami sahabatku. Mas fahri, terimakasih atas semuanya. Semoga aku bisa membantu orang lain dengan segenap kemampuanku. Bahagialah kau di sana.
Kelinci yang tahu! Suatu hari, seekor kelinci sedang bermain bersama dengan kedua temanya, kura-kura dan siput. Mereka sedang bercerita tentang kota-kota terkenal di Indonesia. Karena besok memang kebetulan aka nada pembelajaran tentang kota-kota besar di Indonesia dengan ibu kupu di sekolah, jadi mereka ceritanya belajar bareng “Kura, menurut kamu kota yang paling terkenal dan besar di Negara kita tuh apa?”, Tanya kelinci mengawali pembelajaran mereka. “Bandung.”, jawab kura yakin. “Kenapa?”, Tanya kelinci lagi. “Kenapa ajah boleh,Tanya ajah siput, kota apa yang paling dia suka.” “Owh yah siput, kamu pilih kota apa di Negara kita?” “Bandung.”, jawab siput singkat. “Lho, kenapa kalian berdua memilih bandung?”, kelinci mulai penasaran. “Karena, di bandung itu kalau musim hujan kita tidak bingung untuk mencari tempat tinggal.”, jawab mereka berdua. “Memangnya kenapa, bukanya di kota-kota lain juga kalian mudah buat nyari tempat tinggal?” “Karena, banyak banjir di mana-mana, jadi kami tidak perlu pusing-pusing cari sungai. Kalau kamu sendiri gimana?”, Tanya kura pada kelinci. “Kalau aku akan memilih jogja.” “Kenapa?”, jawab kura dan siput serentak. “Karena, dari jogja aku akan mengirimkan bantuan buat mereka, termasuk kalian berdua para korban banjir di bandung.”, jawab kelinci penuh keyakinan. Kura-kura dan siput pun hanya terangguk-angguk mendengar jawaban si kelinci.
Thursday, June 16, 2011

One Last Massage


Satu Pesan Terakhir
Suasana malam di kampung begitu indah dan damai. Di langit bintang dan bulan dengan bahagia menebarkan kemilaunya. Sungguh, indah sekali. Bunyi kirik jangkrik pun saling bersahutan. Terdengar merdu  di telinga. Tak tertinggal pula keramaian anak-anak di surau kecil pojok kampung itu. Sungguh damai terasa.
Sudah dua hari aku pulang kerumah untuk liburan pra UAS. Dua hari pula aku selalu pergi bersama teman-temanku. Mereka mengajaku ke acara karnaval di desa kami selama dua malam ini. Aku pulang sampai rumah paling cepat jam Sembilan. Seringkali ibu selalu menanyakan kabarku lewat pesan sigkat, namun aku tetap saja asyik dengan duniaku dan teman-temanku. Tak kuhiraukan bunyi sms di hapeku, yang sudah ku tebak pasti dari ibu. “mau pulang jam berapa?”, itulah satu pesan singkat dari ibu. ku jawab dengan sekenanya, “ ngga tahu nanti bu, gimana temen-temen ajah.”, balasku. Akupun kembali asyik dengan teman-temanku.
Pukul sepuluh malam, kulihat lampu ruang belakang masih menyala, itu pertanda masih ada yang belum tidur. Kuketuk pintu itu. Munculah wajah ibu dari balik pintu. Kulihat ia tersenyum, melihat anak gadisnya pulang. Senyum yang menyejukan hatiku, menghilangkan rasa takutku sebelumnya, kalu-kalu ibu akan marah karena kau pulang terlambat lagi. Akupun berjalan masuk  dan langsung menuju kamarku.
“sudah sholat ra?”, ibu kembali mengingatkanku.
“belum bu, iyah nanti rara istirhat sebentar.”, jawabku.
“sholat dulu ra, nanti gampang tinggal tidur.”, dengan sabar ibu menanggapi kemalasanku.
Akhirnya dengan malas dan rasa dongkol karena ibu yang selalu ngomel, akupun beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Kubasuh wajahku, begitu segar.
Akupun melakasanakan satu kewajibanku malam ini. Dan ibu pun mulai tenang sekarang karena aku telah melaksanakan satu kewajiban yang tak boleh ditinggalkan sekalipun. Walaupun aku termasuk remaja yang suka ngelayab kemana-mana, namun untuk urusan satu ini aku usahakan untuk tidak pernah absen, kecuali jika memang aku punya halangan yang memang sangat urgent. Aku selalu berusaha untuk melaksanakanya, walaupun kadang sampai di akhir waktu. Satu pesan ibu yang takan kulupa selamanya. “tetap laksanaka sholat dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun.”
Selesai sholat isya, setelah merapikan semua anggota badan dan juga ranjang, akupun bergegas untuk tidur. Masih banyak schedule menumpuk untuk hari esok. Biarpun aku berencana untuk liburan seminggu ini, tapi dari perasaanku yang paling dalam aku paling ngga bisa buat ninggalin tugas-tugas aku. Biarpun memang dua hari ini aku selalu jalan keluar dengan teman-teman lamaku, tapi tetap di hatiku selalu terfikir tugas-tugas yang menumpuk itu.
Kupaksakan mataku untuk segera terlelap, namun begitu sulit terasa. Kulihat jam duduk di mejaku sudah menunjukan hampir tengah malam, pukul setengah dua belas. Mungkin Karenna terbiasa tidur malam di sana, jadi di kampung pun aku sulit untuk  terlelap lebih awal. Ku ambil satu buku hadiah doorpirize kemaren yang belum sempat ku baca, jadi ku bawa pulang, kali ajah aku sempat membacanya di rumah. Namun, baru beberapa lembar saja membaca, pikiranku ternyata sudah tidak konsen lagi. Semua  bacaan itu tak ada yang masuk ke otaku. Akhirnya akupun menyerah. Kubiarkan pikiranku melayang kemanapun mereka mau. Aku terdiam, entah memikirkan apa. Tiba-tiba aku teringat akan bintang, satu benda langit kesukaanku. Aku ingat jika tengah malam bintang yang berkilauan semakin banyak dan sanagt indah. Akhirnya akupun berinisiatif untuk membuka jendela kamarku, guna melihat bintang itu. Dan ternyata benar saja, saat kubuka jendela, dan kupandang langit di atas sana, sungguh satu pemandangan yang sangat menakjubkan. Bintang-bintang itu begitu banyak , membentuk entah rasio apa saja, tapi ku yakin semua rasio itu pasti akan terlihat pada malam ini. Aku terlena oleh pemandanagn indah itu, hingga tak terasa ternyata mataku mulai sayu. Dan aku pun tertidur di jendela, dengan wajah menatap ke luar.
Hembusan angin pagi membangunanku. Aku terbangun dan kaget, sadar bahwa aku tidur dengan kepala diluar, akupun segera  terjaga dan kembali ke ranjang. Namun ternyata tuhan berkehendak baik kepadaku. Mataku sudah tak mau lagi ku ajak tuk terlelap kembali. Hembusan angin pagi yang segar itu telah membuatku tubuhku segar juga, seolah aku telah beristirahat semalaman dengan sangat nyenyak. Kulihat jam di mejaku, pukul tiga lebih seperempat. Akupun pun pergi ke kamar mandi tuk membasuh wajahku. Aku teringat ada seorang ustad yang bilang bahwa, pada jam jam segini, bagusnya dilakukan untuk sholat malam, atau sholat tahajud kalau ngga salah. Karena saat itulah kita bisa mencurahkan semua isi hati kita pada sang rabb. Dan itu juga termasuk sumber dari pada kesuksesan yang sebenarnya. Akupun berusaha untuk melaksanakannya dengan ilmu yang aku ketahui. Kurasakan kedamaian yang sangat di hatiku. Kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Akupun begitu lancar berdoa dan mencurahkan semua keluh kesah yang selama ini selalu kusimpan dalam hati, yang sejak dulu sangat sulit untuk kuungkapkan pada siapapun, sekalipun itu pada ibuku. Namun saat ini, entah mengapa aku begitu lancar mengungkapkanya pada sang Maha. Hatiku begitu tenang dan plong kurasakan. Tak lupa pula kupanjatkan doa untuk ibu dan ayah tercinta. Ayah  yang telah mengahdapNya beberapa tahun silam, saat aku kecil.
Setelah itu, dengan tanpa kuperintahkan tanganku  meraih benda mungil yang hampir paling jarang kusentuh. Mushaf miniku. Aku pun terlena dengan kalimat-kalima mu’jizat yang sedang kubaca ini. Hatikku semakin tenang dan damai. Hingga tak terasa adzan subuh telah berkumandang. Akupun bergegas menuju surau untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kulihat ibu mlangkahkan kakinya menuju masjid. Kupun mencoba tuk mensejajari langkahnya.
“rara, kamu sudah bangun?”, ibu terlihat kaget melihatku yang tak biasanya bangun sepagi ini.
“iyah bu, Alhamdulillah.”, tak kurasa lidahku pun ikut mendukung sikapku pagi ini.
“Alhamdulillah nak, akhirnya kau bisa juga lebih baik lagi.”
Akupun tersenyum mendengar pujian ibu. kami melangkah bersamaan menuju surau.
Selepas sholat subuh, setelah bertadarus beberapa lembar, kucoba tuk membuka notebookku yang sudah dua hari ini terlantarkan dilemari. Akupun mencoba tuk menulis apapun yang ada dlaam pikiranku saat ini. Semunya mengalir begitu lancar, seperti air terjun di pegunungan yang tak ada rintangan sedikitpun. Akhirnya akupun berhasil menciptakan satu buah cerpen pagi ini. Alhamdulillah.
Tak terasa dua jam aku berkutat di depan notebook, dan jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Aku teringat ibu, aku belum membantunya pagi ini. Aku pun bergegas membereskan kamarku, dan segera menuju dapur. Kulihat ibu sudah siap dengan setelan kesayangnya untuk berangkat ke sawah.
“ibu sudah mau berangkat?”, tanyaku.
“iyah ra, kamu jaga rumah yah, ibu belum sempat bersih-bersih tadi, jadi tolong disapukan sama kamu yah.”, pinta ibu lembut.
“iyah bu, biar nanti rara yang bersihin rumah, maaf tadi rara ngga bisa bantu ibu masak, rara kelupaan di kamar.”
“iyah ngga apa, ibu juga ngga banyak ko masaknya, Cuma sayur kangkung dan tempe goreng. Nanti kalau kamu mau makan, tapi kurang cocok, kamu boleh menggoreng telur, atau apa saja yang kamu suka.”
“iyah ibu, makasih yah.”, kucium tangan ibu sambil tersenyum.
“ya udah sayang, ibu pergi dulu, sudah di tunggu ibu-ibu yang lain di depan sana.”
“ iyah ibu.”
Kupandangi kepergian ibu, sampai di belokan depan rumah. Selepas ibu pergi, akupun bergegas untuk membereskan dan membersihkan rumah. Pukul sepuluh pagi semua pekerjaan itupun akhirnya terselesaikan. Akupun segera mandi untuk menyegarkan badanku. Selepasnya, setelah sholat duha beberapa rakaat, aku kembali mebuka notebook. Kucoba tuk menulis lagi. Awalnya mau menyelesaikan tugas yang masih tertagguhkan, namun ternyata otak belum bisa di ajak untuk berfikir serius, akhirnya akupun menulis apapun yang ingin kutulis.
Menjelang duhur, sayup-sayup dari dalam kamar, kudengar adas suara orang mengucapakan salam dari luar. Akupun keluar untuk memastikan siapa yang bertamu siang-siang seperti ini. Ternya mang Hamdi, tetangga sebelah rumah.
“waalaikumussalam, ada apa ya mang?”, tanyaku sambil menjawab salamnya.
“anu ra, ibu kamu.”, katanya terbata-bata.
Akupun mulai khawatir, apa yang terjadi pada ibu,kenapa mang hamdi terlihat sangat khawatir. “ ada apa mang, apa yang tejadi sama ibu?”, tanyaku buru-buru.
“anu ra, ibu kamu, tadi pas pulang dari sawah, waktu mau nyebrang, keserempet motor.”, jawabnya.
Akupun lemas, hatiku entah bicara apa, otaku tak tahu apa yang sendang kupikirkan sekarang, aku khawatir dan takut hal buruk terjadi pada ibu. aku tekulai lemas di depan pintu.
“ra. Kamu ngga pa-pa, sekarang ibu kamu di puskesmas, kalau kamu mau kesana, biar saya antar pakai sepeda. Ma’lum, saya belum punya motor.”, tawarnya tulus.
Akupun hanya mengangguk mengiyakan ajakannya. Aku duduk dibelakang sepedanya. Iapun mengayuh dengan sangat cepat, melebihi kecepatan biasanya. Kulihat di sepanjang jalan orang-orang melihatku dengan mimic yang sangat mengharukan, memberi simpati.
Setengah jam perjalanan menggunakan sepeda mang Hamdi, akhirnya kami sampai di depan puskesmas desa. Akupun lagsung berlari mencari ibu. namun tak kulihat ada ibu di ruang pasien. Aku bertemu dengan dokter yang berugas siang itu.
“dok, lihat ibu saya, ibu yang terserempat motor dari sawah?”, tanyaku.
“owh ibu Fatimah? Beliau dipindah rawat di  klinik kecamatan, karena lukanya serius.”, jawabnya.
Akupun segera pergi untuk ke klinik. Kulihat mang Hamdi masih menungguku diluar. “ada apa neng, ibu imah baik-baik saja?”, tanyanya/
“ ngga tahu mang, ibu di pindah rawat ke kecamatan.”, jawabku cepat.
“gimana atuh neng, mau amang anter lagi naik sepeda?”
“ngga usah mang, kecamatan jauh, biar rara naik ojek saja. Mang pulang ajah ngga apa-apa, kasihaan bi halimah nungguin.
“owh, ya sudah atuh neng, baik-baik yah neng, kita sama orang kampung pasti doain yang tebaik buat ibu neng.”
“iyah mang, terimakasih banyak.”
Akupun bergegas mencari tukang ojeg terdekat. Alhamdulillah, tak sulit menemukan tukang ojeg di kampungku, karena kebnyakan warga di sini bermatapencahrian ojeg, sebagai sambilan saat nganggur di sawah.
Aku segera menuju ke kecamatan, tempat ibu di rawat. Namun takdir siapa yang tahu. Sesampainya di klinik kecamatan, kulihat ibu-ibu yang tadi pagi berangkat kesawah bersama ibu tengah duduk tertunduk di kursi tunggu. Akupun segera mengahmpiri mereka. Kutanyakan kabar ibu. namun mereka hanya diam dengan wajah sendu. Tiba-tiba, ibu zainab, teman ibu yang paling dekat dengan ibu memeluku. Erat.
“ra, yang sabar yah sayang, semua yang allh berikan pasti yang terbaik buat kita semua. Alloh tidak akan menyia-nyiakan hambanya di dunia ini.”, katanya.
Akupun bingung, tak faham apa maksud dari perkataan ibu zainab itu. “ada apa sebenarnya ibu, apa yang terjadi sama ibu rara”, tanyaku sambil menangis.
Beliaupun memeluku semakin erat. “sabar yah sayang.”, katanya sambil mengelus pundaku lagi.
Aku tersadar.”tidaaaaaakkkkkk, ibuuuuuuuuuuu.”
Aku segera lari ke kamar tempat ibu dirawat sebelumnya. Kulihat tubuhnya terbujur kaku, dengan kain putih di atasya. Aku lemas. Lunglai. Aku terduduk dilantai dengan tangis yang semakin tak bisa kubendung lagi. Ibu zainab pun memasuki kamar dan memeluku lagi. Dengan penuh keibuan, beliau menenangkanku.
Akhirnya, setelah aku agak tenang, jenazah ibupun diantar kerumah dengan mobil yang ada di kecamatan. Belum ada fasilitas ambulance di kampungku saat itu.
Sesampainya di rumah, kulihat sudah banyak orang yang berkumpul di depan rumah. Kulihat bude Aisyah dan keluarganya dari kecamatan sebelah telah hadir di antar semua orang tu. Beliau segera menjemputku detelah kami turun dari mobil, aku dipeluknya begitu erat.
Selesai prosesi pemakaman, aku kembali kerumah bersama dengan bude. Hanya budelah saudara terdekat ibu. satu lagi saudara laki-lakinya tinggal di kalimantan, dan belum bisa hadir untuk sekarang ini. Ibu adalah anak bungsu dari tiga bersaudar di keluarganya. Masa hidupnya ia habiskan bersamaku dan almarhum ayah yang telah lebih dulu berpulang kepadaNya. Kini beliau pun telah menyusul ayah ke pangkuan sang ilahi.
Akupun menambah izin pulangku seminggu lagi, Alhamdulillah mendengar kabar buruk yang terjadi semua dosen bisa memakluminya. Setelah seminggu kepulangan ibu ke rahmatullah, aku segera kembali ka bandung untuk menyelesaikan tugasku sebagai mahasiswa. Rumah ku titipkan pada mang hamdi dan bi halimah, tetangga terdekatku. Mungkin aku akan pulang sebulan sekali untuk menengoknya. Sementara bude aisyah sudah pulang juga pagi pagi,sama di hari aku berangkat juga.
Sesampainya di bandung, kurasakan satu kehidupan lain yang masih terasa asing bagiku. Kehidupan yang belum prnah dan tak pernah ku sangka sebelumnya, bahwa aku akan menjadi seorang remaja yatim piatu. Ciuman tanganku ada ibu yang terkahir pagi itu. Juga sms terakhir yang ibu kirimkan malam sebelumnya. Aku pasti akan rindu dengan sms ibu yang selalu menanyakan kabarku, menanyakan kapan aku akan pulang, mengingatkanku saat aku sibuk,  untuk beristirahat sejenak, sholat. Aku pasti akan meridukan itu. Pasti dan sangat.
Ibu, ayah, terimakasih atas semua yang telah kau berikan padaku, semoga alloh selalu memberikan kesehatan padamu ibu dan ayah, juga memberikan umur yang panjang. Terimakasih atas semua kasih sayang yang kaalian curahkan padaku. Cintamu takkan pernah tergantikan oleh apapun dan siapapun. Kesejukanya, lebih sejuk dari pada embun di pagi hari. Luasnya, lebih luas dari pada lautan yang Tuhan persembahkan pada kita di dunia ini. Kaulah segalanya bagiku ibu, kaulah pelindungku ayah.  Takkan ada yang bisa menggantik kalian u di hatiku. Love you mom and paph. J
From your daughter in Bandung.
Minggu, “duapuluhsembilan mei duaribusebelas”
_cHa_ “chaura aL haViny”

Kau begitu sulit tuk ku raih
Berjam-jam aku menunggu
Hingga malam menjelang

Telah ku alihkan perhatianku
Agar aku tak memikirkanmu lagi
Namun semua itu sia-sia saja
Aku tetap tak bisa tuk lepas dari pikiran tentangmu

Oh Moch Bashory
Di manakah dirimu kini
Diriku menanti saat ini
Untuk terhubung pada lini duniawi
Hehe…

June “11, 22:30 WIB

Ditulis sambil menunggu akses internet gratis. Hehe…
Tuesday, June 14, 2011

I'm Late...


WAKTU=TIME.....???

Waktu? Emang apaan sih waktu itu?
Pastinya kita pada ngga aneh khan dengan kata waktu ini. Satiap hari kita hidup  ini bersama dengan waktu, tanpa waktu ngga bakalan ada kehidupan di dunia ini. Karena dalam hidup kita ditentukan oleh waktu. Sampai kiamat pun ada waktunya. Lalu gimana nih cara kita membuat waktu itu biar ngga jadi sesuatu yang sia-sia?
Di sini aku fu’ah bakalan nuliis tentang waktu yang ada kaitanya sama sholat duha. Tahu khan?
Kita pasti tahu and hafal surat A-Duha khan?
Nah, surat ad-duha ini diturunkan sama Alloh  waktu itu berkaitanenj dengan kejadian yang saat itu Alloh lagi menjeda dulu menurunkan wahyunya. Nah, saat itu kesempatan ini dijdikan ajang sama orang-orang kafir buat mengolok-olok nabi kita Muhammad SAW, beliau diolok-olok bahwa wahyu Alloh sudah ngga turun lagi sama beliau, akhirnya beliaupun sedih. Akhirnya, karena Alloh itu maha penyayang dan tidak mau melihat kekasihnya bersedih, dia menurunkan wahyunya yang berbunyi dalam QS. Ad-Duha ayat 1-3, yang artinya:
“Demi waktu saat matahari naik sepenggalan. Dan demi malam apabila telah
. Tuhanmu itu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci kepadamu.”
Dari ayat itu dijelaskan bahwa Alloh itu selalu menyertai kita, kapanpun dan di manapun. Dari ayat yang pertama kittahu bahwa itu adalah waktu duha dimana kita sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas kita. Alloh mengingatkan kita untuk beristirahat sejenak, untuk mengingatnya. Selain itu juga, dalam sholat duha itu Alloh memberika balasan kepada kita bahwa dua rookaat sholat duha itu sama halnya dengan kita bersodaqoh pada sendi-sendi dalam tubuh kita sebanyak 1000 kali lipat. Sedang sandi dalam tubuh kita itu berjumlah 360, jadi jika dikalikan 1000 menjadi 360.00 per hari. Nah itu hanya dua rakaat, yang tidak memerlukan waktu yang lama, apalagi jika lebih. Pasti lebih banyak lagi,coba dihitung yah.
Jadi, selain kita dianjurkan bersodakoh sama fakir miskin, kita juga dianjurin buat sodaqoh sama sendi-sendi yang ada dalam tubuh kita, yang selalu membantu kita dalam bekerja, beraktivitas, dan beribadah sehari-hari.
Di ayat kedua kita juga diingetin buat mengingat Alloh di malam yang sudah sunyi dan hening, karena pada saat-saat itulah malaikat alloh turun ke bumi untuk memberikan rahmat Alloh pada mereka yang terjaga saat itu. Karena pada saat seperti itulah kita bisa khusyu dan sungguh sungguh dalam berkomunikasi dngan Alloh. Hingga kahirnya kita bisa merasakan ketenangan yang luar biasa.
Dari ayat yang ketiga, kita diberitahu oleh alloh bahwa dirinya tidak pernah meninggalakan kita, Dia selalu ada mneyertai kita, kapanpun dan di manapun. Saat kita mendekat kepada alloh sejengkal saja, alloh mendekat pada kita satu depa atau sepanjang tangan kita. Saat kita mendekat pada Alloh dengan berjalan, Alloh mendekat kepada kita dengan berlari. Begitulah cinta Alloh kepada hambanya, dua kali lipat cinta kita pada Alloh. Begitu maha penyayangnya Alloh.
Maka, dari semua penjelasan itu, kita diperingatkan untuk selalu menjadikan waktu kita menjadi sesuatu yang berharga, agar tidak menjadi sia-sia. Juga, kita diingatkan untuk senantiasa ditemui olah Alloh. Kata ditemui ini berarti bahwa mita harus bisa menjadi hamba Alloh yang layak untuk disapa dan ditemui oleh Alloh tuhan kita. Karena jika kita yang mencari dan menemuinya itu begitu sulit, karen Dia begitu maha besar dan maha segalanya, sehingga kita mungkin tidak mempu untuk menemuinya. Mka dari itu kita harus menjadi hambanya yang layak dan pantas walaupun hanya sekedar disapa olhhNya. Amiin...
“Jadiknlah waktumu sebagai sesuatu yang dapat kau manfaatkan. Dan
janganlah kamu dimanfaatkan oleh waktumu.”
Wassalaam...:))
By. cHa
v
Cinta Chery
Malam itu langit begitu bahagia. Para bintang dengan cerahnya bertaburan hingga malam menjelang. Sedang sang rembulan dengan malu-malu menyeruak saat keheningan malam menjemput, menambah kebahagiaan langit malam itu. Begitupun diriku, setelah kemarin andi sahabatku mengungkapkan perasaanya padaku, akupun merasa bahagia bagai seorang gadis kecil yang begitu ceria mendapatkan lollipop dari mamahnya. Andi adalah sahabat terbaiku sejak kecil. Kami sempat hilang kontak saat kami lulus dari sekolah dasar. Ia melanjutkan pendidikanya ke Surabaya, karena tugas resmi ayahnya yang tak bisa ditunda lagi. Hingga kemudian, tak terduga takdir mempertemukan kita lagi. Secara tidak sengaja saat acara pengenalan mahsiswa di kampus tempat kami belajar sekarang, ada seorang laki-laki yang dengan gagahnya naik ke panggung untuk mennjukan talentanya. Aku yang kebetulan duduk dibarisan paling depan, terkejut mengenal jelas wajahnya. Iapun sama, saat melihatku terkejut, mengenaliku. Dari situlah, hubungan kita mulai tersambung lagi. Satu semester kami jalani perkuliahan sebagai mahasiswa baru. Hampir setiap hari kami jalan bersama dan melakukan hal-hal menarik berdua. Kita kebetulan satu fakultas, hanya berbeda jurusan saja. Dia jurusan TI, sedangkan aku fisika sains. lebih mempermudah komunikasi kita lagi. Dirinya pun telah mengenal dekat keluargaku lagi. Ayah yang berpindah tugas ke kota kembang setahun yang lalu, mempermudah pendidikanku. Aku tak perlu jauh-jauh pulang ke subang untuk PP kampus-rumah. Selama satu semester itulah hubungan kami semakin erat, hingga di awal semester genap, setelah menghabiskan liburan panjang selama satu bulan di kampungnya, seminggu setelah perkuliahan dimulai, dia mengungkapkan perasaanya padaku. “Han, sudah lama aku ingin mengungkapakan ini, tapi baru kali ini aku berani tuk berbicara langsung padamu. Aku suka sama kamu han. Jauh hari saat kita masih ingusan. Maukah kau jadi gadisku?”. Kalimat itulah yang begitu melekat dalam hatiku. Andi, pearku, sahabat kecilku dulu, menyukainku. Bahkan ia menyimpan perasaanya sejak kita belum tahu apapun tentang hidup ini, apalagi cinta, tak pernah terbesit di hatiku. Malam ini pun, biarpun jam duduk dimejaku sudah meunjukan pukul setengah dua belas, hampir mendekati midnight, aku belum juga bisa memejamkan mataku. Kata-katanya selalu terngiang di telingaku, membuatku sulit tuk terlelap. Akhirnya, karena lelah menunggu mata yang tak mau di ajak kompromi, aku memutuskan untuk duduk di kursi dekat jendela kamarku. Kusibak tirai dan kubuka sedikit jendela untuk sekedar menghirup dinginnya udara malam. Kulihat beribu-ribu bintang bertaburan di langit. Begitu indah. Bandung yang jarang sekali sudi untuk menampakan bintang yang selalu memelas untuk menampakan keindahanya, kini dengan tulus mempersilahkan bintang dan rembulan malam itu dengan bebas mengekspresikan keidahan yang luar biasa. Indah dan akupun bahagia. “hai”, sapanya pagi itu. Mengagetkanku. Aku begitu terpana melihatnya. Ia begtu gagah dengan setelan kemeja coklat dipadu dengan jeans hitamnya. Senyumnnya menyejukan pagi yang dingin. “chery, ko bengong sih?”, tanyanya dengan panggilan sayangnya padaku, sambil mengibaskan tanganya di depan wajahku. Aku tersadar. “owh, eh maaf. Pagi juga pear.” “pagi-pagi dah ngelamun, kesurupan gimana ??”, candanya. “ngedoain? Kalau aku kesurupan, berarti setannya kamu. Hehe.”, jawabku. “bisa ajah kamu jawabnya. Gimana pertanyaan ku kemaren?”, tanyanya to the poit. Aku memang tidak langsung menjawab permintaanya kemarin. Aku masih harus memikirkanya. Ada sebersit rasa takut dalam hatiku, kalau-kalau hubungan itu bisa merusak kedekatan persahabatan kami. “aku takut pear.”, jawabku jujur. “kenapa my chery, adakah yang kurang dari diriku? Ada yang menyeramkan?” “bukan gitu pear, kamu ngga kurang satu apapun. Juga tidak menyeramkan sama sekali.” “lalu?” “aku takut persahabatan kita bakalan hancur kalau kita melakukan hubungan ini.”, jawabku. “tenang aja chery, persahabtan kita ngga bakalan kenapa-napa. Hubungan yang kita jalin pun ngga akan berdampak apapun pada persahabtan kita. Malahan bisa jadi pijakan buat kita, karena kita sudah saling tahu diri kita berdua satu sama lain.”, jawabnya meyakinkanku. “kamu yakin?” “iya cheryku, manisku, yang paling imut, kaya semut. Aku yakin banget, seratus persen malah. Ok, sekarang kita jadian yah? Kamu mau nerima aku jadi cowo kamu?”, ucapnya sambil menunjukan kelingkingya. Janji kami berdua. Akupun mengangguk. Dia memeluku erat. “terimakasih cheryku”, ucapnya. *** Dua tahun berlalu. Kami jalani hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Alhamdulilah, tak ada masalah serius yang terjadi diantara kami. Pertengkaran-pertengkaran kecil berhasil kami atasi. Hingga akhirnya, suatu hari aku berkenalan dengan teh airyn, seorang muslimah sejati yang begitu anggun. Beliau begitu menjaga tubuh, pandangan dan hatinya. Pakaianya selalu lebar dan longgar menutupi setiap lekuk tubuhnya. Pandangan matanya pun begitu terjaga. Tak pernah kulihat dia menatap wajah ikhwan yang berbicara denganya. Hatinya pun begitu lembut. Berbeda denganku. Biarpun aku memakai baju lengan panjang, tapi bajuku ketat, dan celana jeans yang kupakai masih menampilkan lekuk tubuhku. Juga mahkotaku yang belum kututupi dengan sehelai kain yang sangat mulia, jilbab. Suatu hari, setelah mengikuti seminar keputrian kami ngobrol di teras masjid kampus kami. Aku yang kebetulan memang sedang menunggu andi menjemputku, sedangkan ia memang masih ada kegiatan di masjid setelah maghrib nanti. “hani, bagaimana tadi seminranya. Apa yang kamu dapat?”, tanyanya. “gitu aja yah teh, sebagai seorang wanita, kita ngga boleh jadi orang yang lemah. Kita harus kuat, karena kita nantinya akan menjadi seorang pemimpin di rumah kita, bagi anak-anak kita nantinya.” Jawabku sekenanya, menurut apa yang aku dengar tadi. Karena kebetulan, aku ikut seminar itu juga untuk mengisi kekosongan jadwalku saja, dosen berhalangan hadir, sedang andi masih lama lagi menjemputku. “benar sekali. Menurut hani sendiri, wanita yang kuat itu yang kaya gimana?” “wanita yang kuat itu tidak cengeng”, jawabku sekenanya lagi." Ia pun menanggapi jawabanku dengan uraian yang panjang . dari semua tanggapannya atas jawabanku, ada satu kalimat yang begitu membuataku kaget, karena aku belum pernah tahu sebelumnya. “han, benar memang wanita yang kuat adalah wanita yang tidak mudah menangis’, jawabnya lembut. “namun selain dari itu, wanita yang kuat adalah wanta yang bisa menjaga dirinya dari perbuatan ma’siat yang dibenci oleh alloh. Juga wanita yang bisa menjaga sesuatu yang paling berharga di dirinya, yang hanya akan diberikan nanti setelah kita menikah dalam ikatan suci yang diridhoi oleh alloh, padanyalah hati dan raga kita esok kita curahkan.” “maksudnya?”, tanyaku meminta penjelasan. “maksudnya, gadis solehah yang selalu menjaga aurat juga hatinya. Dia tidak mengumbar keduanya sembarangan pada laki-laki. Hanya pada suaminya ia akan berikan semua itu.” “jadi orang yang pacaran itu lemah? Itu maksud teteh?”, tanyaku. “teteh ngga bilang kaya gitu. Hanya saja mereka belum kuat untuk menahan hawa nafsu mereka.” Kami ngobrol panjang lebar, hingga andi menjemputku tepat saat adzan maghrib berkumandang. Dari situlah aku mendapatkan tetes-tetes hidayah yang begitu sejuk bagai embun di pagi hari, yang tak pernah kutemukan sebelumnya. *** Esok harinya, setelah obrolan panjangku dengan teh airyn, aku merubah penampilanku seratus delapan puluh derajat. Aku kini mencoba untuk berpakaian anggun sepertinya. Biarpun awalnya memang begitu aneh dan tidak nyaman , juga andi yang bersikeras tidak setuju dengan penampilan baruku itu, namun aku tetap betahan. Selain itu juga, aku meminta hal yang sangat membuatnya terkejut. Dan itu semakin menambah ketidaksetujuanya pada penampilanku itu. Aku mengajukan permintaan itu seminggu setelah aku merubah penampilan. Hingga suatu hari, melihatku yang tetap tidak mau berubah kembali seperti semula, ia menghampiriku di lab saat sedang praktikum .“cher, kamu masih tetap teguh dengan pendirian kamu?”, tanyanya. “iya an, aku ngga akan bisa merubah keputusanku. Terserah kamu mau menrima atau tidak, tapi itulah kenyataanya.”, jawabku. “okelah kalau memang itu maumu dan bisa membuatmu bahagia. Aku ngga bakalan memaksa kamu. Tapi kamu harus tahu dan ingat selalu, aku ngga akan lelah buat mendapatkan dirimu meski apapun yang terjadi.”, jawabnya sambil meletakan sebuah bingkisan kecil di meja praktikku. “aku akan pergi satu bulan lagi, ayah memintaku unntuk melajutkan kuliahku di ausy semester depan.”, Lanjutnya. Ia pun pergi meninggalkan ruang praktikum. Aku hanya diam memandang punggungnya yang hilang dibelokan lirong sana. Sebuah bingkisan kecil tergeletak di depanku. Sebulan setelah peristiwa itu, aku tak pernah lagi berhubungan denganya. Tak ada kabar apapun tentangnya. Kami kehilangan kontak lagi. Mungkin karena kami sedang sibuk mengurus ujian akhir, hingga ia pun tak sempat untuk sekedar menyapaku lewat pesan singkat sekalipun. Seperti yang dilakukanya dulu saat kami masih punya hubungan special. Semingu setelah UAS berakhir, tak sengaja aku melihatnya berjalan bareng ka ilham, seniorku di organisasi baruku ini, LDM. Mereka berjalan keluar dari ruang sekretariat ikhwan. Setelah itu aku tak pernah menjumpainya lagi, baik di kampus ataupun di rumah. Hingga seminggu setelah aku melihatnya jalan bersama seniorku, satu pesan singkat masuk di layar inboxku, darinya. “assalamualaikum, hani gadis berpipi apel semerah chery, esok pagi aku akan berangkat ke ausy, seperti janjiku saat itu. Aku harap kamu dapat meridhoi kepergianku dengan setetes maaf darimu atas semua salah dan khilafku padamu selama ini. Izinkanlah aku untuk mencari secercah cahaya juga sepertimu agar aku bisa layak untuk menjadi imammu kelak, menjadi ayah dari anak-anakmu, dan kaupun sudi tuk jadi bidadariku di dunia dan akhirat. Maafkanlah semua salah dan khilafku. Maafkan aku yang tak bisa melenyapkan rasa cinta di hatiku ini padamu. Jadi kumohon, bersabarlah kau untukku. By pear.” Tak terasa butiran bening mengalir di kedua belah pipiku. “alaykumusalam. iya pear, aku akan setia menunggumu hingga kau berhasil memperoleh hidayah itu. Doa dan cintaku kan selalu menyertaimu juga. Awalilah langkahmu dengan menyebut asmanya, bismillah.”, jawabku mereply pesan singkatnya. Teringat aku akan bingkisan kecil yang belum sempat ku lihat isinya saat itu. Aku pun mengambilnya dari dalam laci, dan kubuka. Ternyata al-qur’an mini dengan warna gold. Begitu indah. Akupun memeluknya. “semoga ia berhasil mendapatkan hidayah itu dan bisa menjadi penerang dan pelengkap kehidupanku nanti seperti al-qur’an ini, petunjuk dan penerang umat muslim setelah sang rasul wafat.”, doaku dalam hati. Keesoka harinya, saat sedang menyebrang kekampus tak terduga olehku ada sebuah motor yang melaju sangat kencang, dan akupun tak bisa tuk menghindarinya. Aarrrrgggghhhhhhhh……..alohhuakbarrrr…. Tubuhku terpental. Aku merasakan pusing yang amat sangat di kepalaku. Kulihat bayangan putih menghampiriku, mengulurkan tanganya padaku. Akupun menerima uluran tangan itu. Terlintas satu wajah yang selama ini tak kunjung lelah menantiku, andi my pear. Aku pergi meninggalakan tubuhku yang berlumuran darah. Aku melihat orang-orang mengangkaktku ke dalam ambulance. Kulihat teh airyn berlari dengan terburu-buru kearahku. Namun aku tak bisa tuk meraihnya, dia tembus begitu saja melewatiku yang berdiri tepat di arah menuju ambulance, tempat tubuhku di baringkan. Aku tak bisa berbincang lagi denganya dan dengan orang-orang yang mengelilingi tubuhku. Aku sadar, malaikat tuhan telah menjemputku tuk menghadap kepadaNya. “pear, terimakasih kau telah mencurahkan cinta tulusmu itu untukku. Semoga kita bersatu esok disurga sebagai pasangan yang kekal dan abadi.”, ku titipkan pesan terakhirku pada angin yang berhembus sore itu. Akupun melangkah terus mengikuti bayangan putih itu. Selamat tinggal pear. Doa dan cintaku kan selalu menantimu hingga ke surga nanti. Love you….  Bandung, 21 mei 2011 Ma’had al-jami’ah UIN SGd bandung. By. Chaura aL haViny
Friday, April 29, 2011

SENYUM ITU???

SENYUM ITU??? Siang yang begitu terik, namun air mataku terus mengalir seperti hujan di luar sana, amat deras dibarengi guntur yang menggelegar, layaknya hatiku sat ini yang tak mau berhenti tuk menjerit. Sudah tiga bungkus tissue looney aku habiskan, namun air mata ini tetap saja tidak mau berhenti mengalir dari mataku. membuat mataku semakin sembab. Dalam balutan busana putih ini, aku termenung sendiri di kamar memikirkan nasib dan kehidupanku yang akan terjadi nanti dan esok hari. Aku yang akan menjadi milik seseorang yang aku belum pernah mengenal sebelumnya, yang aku hanya tahu lewat selembar foto yang ibu berikan padaku seminggu yang lalu. Gambar seorang laki-laki yang tak pernah ku sangka sebelumnya. Aku teringat kan seseorang yang sudah kunantikan enam tahun yang lalu, yang sekarang entah di mana,aku tak tahu keberadaanya. Mungkin dia sudah memiliki sang bidadari di kehidupanya. Kenangan itu entah hilang kemana. aku kini hanya bisa pasrah atas apa yang telah menimpaku. Setelah beberapa lamaran aku tolak, dengan alasan masih kuliah, sibuk bekerja, dan banyak alasan lain yang akau ajukan. Namun, sekarang sudah lulus sarjana psikologi islam setahun yang lalu. Karena ketidak sabaran orang tuakau untuk menimang cucu, dan juga tuntuan tradisi, statusku sebagai anak sulung perempuan tidak boleh terlalu lama menyandang status perawan, dikarenakan aku juga mempunyai seorang adik perempuan yang sudah berajak dewasa. Akhirnya ayahku memaksakau untuk menerima lamaran itu, untuk menikah dengn orang yang begitu asing bagiku, putra dari sahabat ayahku semasa tinggal di pesantren dulu. Kenangan pun hanya tinggal kenangan. seperti abu yang yang berserakan, tak bisa ku raih lagi. Orang yang aku tunggu-tunggu selama sejak masa aku masih memakai seragam abu-abu, kini entah hilang kemana. Enam tahun sudah akau tak pernah lagi bertemu denganya. tak ada kabar sedikitpun. “Susan, kamu sudah siap?”, pertanyaan mamah menggugahku dari lamunan panjangku. “Iyah mah”, jawabku. “Sudahlah san, maafin mamah yah, mamah belum bisa memberikan yang tebaik buat kamu. Maafkan sikap ayahmu yah.” “Mamah....”, aku pun tak kuasa menahan air mataku, kupeluk ibuku erat. “Ngga apa-apa ko mah, susan ikhlas, asal mamah sama papah bisa bahagia, susan pasti juga bahagia.” “makasih yah sayang. Ya udah, sekarang kamu tenangin diri dulu yah, setengah jam lagi keluarga ibu Rosmina akan segera sampai. kamu harus terlihat cantik yah.” “iyah mah.”, jawabku singkat. “Ya udah, sekarang hapus dulu air mata kamu. ini hanya khitbah biasa ko, ngga langsung nikah. Jadi kamu masih punya waktu untuk mengenali nak ihsan dengan baik. Insya alloh.” “Iyah mah.” “Anak mamah harus tegar, dan selalu senyum biar cantik. yah!!” “Iyah mamah...susan baik-baik ajah ko.” “Ya sudah mamah keluar dulu yah, nanti kalau sudah datang mamah panggil. Sekarang usap dulu air matanya dan tenangin diri kamu yah.” “iyah mah.” Mamah pun keluar dari kamarku. Aku kembali termenung sendiriann di kamar. Terlintas kembali semua angan-anganku yang lebur barusan. terkenang lagi masa-masa MA-ku. Saat aku mengenalnya, hingga harapanku untuk bisa membangun sebuah keluarga yang ideal denganya. Namun semua itu berubah sejak kita mulai memilih jalan kita masing-maasing. Dia melanjutkan belanjarnya disebuah pesantren salafi setelah lulus dari sekolah. Sedangkan aku melanjutkan belajarku di sbuah perguruan tinggi di jawa barat. Tak ada lagi kontak dan komunikasi diantara kami. Hingga sampai tiga tahun yang lalu, aku dengar dari adik kelasku semasa belajar di pesantren dulu, bahwa telah ada wanita lain yang minta dikhitbah olehnya. Pupus sudah semua harapanku padanya saat itu. Semua itu terkubur dalam di hatiku. “Ka, ka, boleh masuk?”, Aini adiku memanggilku dari luar kamar. “Iyah”, jawabku sambil menghapus sisa-sisa air mataku. “Ka keluarga ka ihsan udah sampai tuh, dah di halaman.” Terdendar suara gemuruh mobil memasuki halaman rumah memang. Hatikupun semakin bergetar tak karuan. Aku semakin tak bisa menahan air mataku. “Ka, kenapa menangis?”, adiku yang tak tahu duduk peramasalahanya bertanya padaku. “Ngga apa-apa sayang. kaka cuma gerogi ajah ko.”, jawabku bohong. “Ka, jangan menangis nanti make-upnya luntur. nanti ka ihsanya ngga jadi lagi ngehitbahnya, ngga jadi punya kaka baru. hehe...”, candanya. Ah, aku ngga peduli make-upku mau hancur kaya gimana juga. Aku malahan seneng kalau ka iihsan itu ngga jadi ngehitbah aku.hehe... pikirku dalam hati. “ngga sayang...kaka khan cantik, biarpun make-upnya luntur, hati kaka ngga bakalan ikut luntur juga,tetep cantik. Jadi ka ihsanya juga ngga bakal ngebatalin.”, candaku menyembunyikan kesedihan. “Iya deh, kakaku tersayang emang cantik lahir batin.” “amiin...” “Yuk ka ke bawah, kasihan keluarga ka ihsan nanti nunggunya lama.” Aku pun berdiri dibantu adiku yang manis ini. Serasa tak ada sedikitpun tenaga untuk melangkah. Kakiku terasa lemas bagai tak bertulang. Tangan terasa tak punya daya tuk memegang apapun. Aku terus diam dalam gandengan tangan adiku menuju pintu kamar. Langkah kakiku begitu berat untuk sendiri melangkah keluar kamar. Huatiku terasa kosong , pikiranku entah kemana. Hanya hamparan padang rumput panas yang terlintas dalam pikiranku, yang begitu panas namun gelap. Tak ada seorang pun yang memyelamatkan dan menemukanku di sana. Akupun berjalan menuruni tangga bersama adiku. Aku berjalan sendirian di padang itu. Tak ada tempat untuk berlindung. Aku tak tahu harus melangkah ke mana. Adiku terus menuntunku. Hingga sampai tepat di siku tangga, aku lihat ibu tersenyum padaku. Sedang ayah berbincang-bincang dngan keluarga sang tamu terhormat. Aku melihat seorang laki-laki memakai jacket hitam, berambut cepak berbelah tengah memunggungiku. Apakah itu ka ihsan? Bukankah di foto rambutnya panjang. Tapi tak ku lihat ada laki-laki muda selain dia. Aku mulai ragu. Diakah orangnya? Kenapa aku seperti faham tegap bahunya. Dan aku juga seperti kenal gaya menengadah dan duduknya. “Ka?”, adiku mengagetkanku yang berhenti secara tiba-tiba. “Ayoo ka...”, ajaknya lagi. “Nanti dulu de ah, ngga enak ayah masih asyik ngobrolnya, nanti malah keganggu sama kehadiran kita.” “Ngga apa apa ka, ibu udah nyuruh kita turun tuh.” Aku pun menuruti saja perintah adiku. Aku memaksakan kakiku menuruni sisa-sisa anak tangga yang hanya tinggal lima lagi. Aku masih memikirkan orang yang memunggungiku itu. Siapakah dia, kenapa aku seperti mengenalnya. Tapi aku tak berani tuk menampakan wajahku. Aku tertunduk memandangi lantai rumahku yang berwarna pink. Ritme berjalanku terasa begitu lambat, tak seperti biasanya. Aku yang selalu berjalan cepat seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Inilah salah satu pembelajaran kedisiplinan keluargaku. Kami diharuskan untuk selalu bertindak cepat, tidak menunda-nunda sesuatu, dalam hal apapun. Aku terus menyusuri anak tangga yang terakhir. Sampailah kami di ruangan tempat kedua keluarga berkumpul. Dan orang itu masih memunggungiku. Aku masih menunduk. “Nah ini susan anaku, sarjana psikologi islam’, ayah memperkenalkanku. Aku masih menunduk, tak berani melihat laki-laki itu. Aku hanya berani memandang dan tersenyum pada ibu sang tamu. “oh iyah...wah cantiknya, sudah sedewasa ini. Ihsan pasti tidak akan menyesal sudah memilihnya.”, jawab sang ibu tamu. “Alhamdulillah...”, jawab mamah. “ayo sini susan! Aini ajak kakamu ke sini.” Akupun menghampiri ibu dan duduk di sebelahnya. Aku masih menunduk, belum berani untuk menatap laki-laki itu. Siapakah dia? Kenapa belum ada laki-laki lain yang datang. Benarkah laki-laki itu ka ihsan? Syakauwtu ilaa wakiiri, suuu’a hifdzi. Wa’arsyadani ‘an ta’til maa’asyi.... Tiba-tiba terdengar nada dering lagunya Talib al-Habib, knowledge is light. Aku pun memberanikan diri untuk melihat, suara hp siapakah itu. Bukanya hp-ku di tinggal di kamar. kenapa sampai ke sini bunyi nada deringnya. Namun saat aku mengedahkan wajahku. Aku tak tahu, apakah ini mimpi ataukah kenyataan. Dia yang beranjak meninggalakan ruangan untuk mengngkat telepon barusan. Dia yang tak berani aku lihat tadi. Dia yang ku kenal puggung dan bahunya.” Senyumnya....ya Alloh...senyum itu? Mimpikah aku?”, tanyaku dalam hati. Dia, orang yang aku tunggu selama enam tahun. Yang ku kira sudah dimiliki oleh bidadari lain. Yang telah hilang entah ke mana. Yang ku kira aku telah kehilanganya untuk selamanya. Yang ku kira aku tak boleh untuk mengharapkanya lagi. Ka Akmal, kaka kelasku saat masih aliyah dulu. Kita terpaut tiga tahun. Dia, orang yang membuatku mengerti akan makna cinta yang sebenarnya. Cinta yang hanya karena Alloh semata, tak mengharapkan nafsu. Dia yang selalu kucoba kubur dalam ingatanku. Kucoba tuk tidak memikirkanya lagi. Yang telah kucoba tuk mengikhlaskan keinginan orang tuaku. Ya Alloh,,, apakah makna dari semua ini. Benarkah dia orangnya. Benarkah dia yang akan ayah jodohkan padaku. Bukankah rambutnya gondrong. Tapi jika diperhatikan, wajahnya memang ngga jauh beda dengan yang di foto. Namun, kenapa aku tak kenal bentuk hidung dan matanya, yang dulu sempat membuatku tak bisa tidur semalaman. Senyumnyalah yang membuatku mengingat semuanya,saat dia meninggalkan ruangan tadi. Senyum yang takan pernah luput dari ingatanku. Benarkah dia orangnya. Orang yang akan menjadi imamku sampai akhir hayat nanti? Orang yang akan mengisi sisa umurku nanti. Insya Alloh. “Kenapa ihsan, apa kata budemu?”, tanya Ibu Rosmina pada anaknya. “Ngga apa-apa mah. Kata bude maaf ngga bias hadir, ada keperluan luar kota yang ngga bisa di tinggal.”, jawabmya. “Oh iyah. Kamu bilang ngga apa-apa khan?” “iyah mah.” “ Ya udah pah, mulai ajah sekrang!”, perintah bu rosmina pada suaminya. “Iyah mah.”, jawab sang suami. Akhirnya sang ayah dari keluarga tamu pun mengungkapkan tujuan kedatangan mereka dengan singkat dan jelas. Sekrang tibalah giliranku untuk menjawab tujuan mereka. Setelah sebelumnya ayah menjawab dengan sederhana, namun kemudian segala keputusan dikambalikan padaku. “Bismillahirrohmaniirohiim. Dengan menyebut nama alloh yang maha sengalanya. Aku menerima khitbah ini dengan hati yang ikhlas.”, jawabku agak gugup. “Alhamdulillah....”, semua serentak mengucapkan syukur setelah mendengar jawabanku. Termasuk ka akmal. Setelah acara pengungkapan tujuan perkunjungan selesai, ayah pun mengajak semuanya untuk segera menyantap makan siang yang sudah ibu siapkan sejak pagi tadi. *** Setelah selesai makan dan sholat, kedua kelurga pun berkimpul lagi di ruang tamu sekedar untuk ngobrol-ngobrol santai dan juga melepas kerinduan stelah bertahun-tahun terputus kominikasi. Sedangkan aku bersama ka akmal di beri kesempatan untuk negbrol di teras. “Ade kaget yah?”, tanyanya mengawali obrolan kami dengan sapaan akrabnya padaku. “Kenapa?”, tanyaku. “Ngga nyangka khan yang bakal datang itu kaka?” “Iyah sih, beda banget ma yang di foto. Ade ajah ngga nyadar itu kaka. Udah berubah banget. Lagian, bukanya kaka itu ngga nglanjutin kuliah yah. Terus, dapat dari mana lagi namanya ihsan. Aneh banget.”, tanyaku panjang lebar sambil tersenyum. “Iyah sih, awalnya emang kaka ngga ngelanjutin. Tapi pas stahun lebih kaka di pesantren, kaka ditawarin beasiswa. Ya udah kaka coba ajah. Terus kalau ihsan itu, sebenarnya nama kecil kaka, tapi ngga di masukin ke ijasah soalnya kepanjangan.hehe..” “Siapa emnag namanya?” “Masa lupa sih, nama kaka itu khan Muahammad Akmal Maulana Ihsani.” “Iyah yah. Terus tentang gadis yang minta di khitbah sama kaka gimana?” “Tahu dari mana ade tentang itu?” “Ada deh. Tapi bener khan?” “Iyah sih. Tapi khan ngga jadi, soalnya kaka waktu itu masih ingin focus kuliah. Jadi ngga bisa. Tapi ternyata dianya dah ngga bisa nunggu, ya udah kaka ikhlasin ajah. Akhirnya dia nikah duluan.” “yah, kalau gitu berarti ade bukan yang pertama yah?” “Kata siapa? Khan sekarang mah sudah jadi yang terakhir. Pertamanya khan dulu, akhirnya sekrang, dan tengah-tengahnya...mana tahu...hehe.” “Iih...kaka...”, lakuku manja. Alhamdulillah, beribu syukurku kepada Alloh yang maha pemberi kejutan. Yang telah menghadiahkan dirinya padaku. Semua moment indah ini takan pernah terhapus dalam memory kehidupanku. Semua terkabul saat keikhlasan itu telah menyatu dalam jiwa. Hatiku kembali sejuk seperti daun-daun di dahan pohon yang telah tersirami oleh hujan pagi tadi. Love you... By. Fu’ach
 
cHa's create. Template Design By: SkinCorner