SENYUM ITU???
Siang yang begitu terik, namun air mataku terus mengalir seperti hujan di luar sana, amat deras dibarengi guntur yang menggelegar, layaknya hatiku sat ini yang tak mau berhenti tuk menjerit.
Sudah tiga bungkus tissue looney aku habiskan, namun air mata ini tetap saja tidak mau berhenti mengalir dari mataku. membuat mataku semakin sembab. Dalam balutan busana putih ini, aku termenung sendiri di kamar memikirkan nasib dan kehidupanku yang akan terjadi nanti dan esok hari. Aku yang akan menjadi milik seseorang yang aku belum pernah mengenal sebelumnya, yang aku hanya tahu lewat selembar foto yang ibu berikan padaku seminggu yang lalu. Gambar seorang laki-laki yang tak pernah ku sangka sebelumnya.
Aku teringat kan seseorang yang sudah kunantikan enam tahun yang lalu, yang sekarang entah di mana,aku tak tahu keberadaanya. Mungkin dia sudah memiliki sang bidadari di kehidupanya. Kenangan itu entah hilang kemana. aku kini hanya bisa pasrah atas apa yang telah menimpaku. Setelah beberapa lamaran aku tolak, dengan alasan masih kuliah, sibuk bekerja, dan banyak alasan lain yang akau ajukan. Namun, sekarang sudah lulus sarjana psikologi islam setahun yang lalu. Karena ketidak sabaran orang tuakau untuk menimang cucu, dan juga tuntuan tradisi, statusku sebagai anak sulung perempuan tidak boleh terlalu lama menyandang status perawan, dikarenakan aku juga mempunyai seorang adik perempuan yang sudah berajak dewasa. Akhirnya ayahku memaksakau untuk menerima lamaran itu, untuk menikah dengn orang yang begitu asing bagiku, putra dari sahabat ayahku semasa tinggal di pesantren dulu.
Kenangan pun hanya tinggal kenangan. seperti abu yang yang berserakan, tak bisa ku raih lagi. Orang yang aku tunggu-tunggu selama sejak masa aku masih memakai seragam abu-abu, kini entah hilang kemana. Enam tahun sudah akau tak pernah lagi bertemu denganya. tak ada kabar sedikitpun.
“Susan, kamu sudah siap?”, pertanyaan mamah menggugahku dari lamunan panjangku.
“Iyah mah”, jawabku.
“Sudahlah san, maafin mamah yah, mamah belum bisa memberikan yang tebaik buat kamu. Maafkan sikap ayahmu yah.”
“Mamah....”, aku pun tak kuasa menahan air mataku, kupeluk ibuku erat. “Ngga apa-apa ko mah, susan ikhlas, asal mamah sama papah bisa bahagia, susan pasti juga bahagia.”
“makasih yah sayang. Ya udah, sekarang kamu tenangin diri dulu yah, setengah jam lagi keluarga ibu Rosmina akan segera sampai. kamu harus terlihat cantik yah.”
“iyah mah.”, jawabku singkat.
“Ya udah, sekarang hapus dulu air mata kamu. ini hanya khitbah biasa ko, ngga langsung nikah. Jadi kamu masih punya waktu untuk mengenali nak ihsan dengan baik. Insya alloh.”
“Iyah mah.”
“Anak mamah harus tegar, dan selalu senyum biar cantik. yah!!”
“Iyah mamah...susan baik-baik ajah ko.”
“Ya sudah mamah keluar dulu yah, nanti kalau sudah datang mamah panggil. Sekarang usap dulu air matanya dan tenangin diri kamu yah.”
“iyah mah.”
Mamah pun keluar dari kamarku. Aku kembali termenung sendiriann di kamar. Terlintas kembali semua angan-anganku yang lebur barusan. terkenang lagi masa-masa MA-ku. Saat aku mengenalnya, hingga harapanku untuk bisa membangun sebuah keluarga yang ideal denganya. Namun semua itu berubah sejak kita mulai memilih jalan kita masing-maasing. Dia melanjutkan belanjarnya disebuah pesantren salafi setelah lulus dari sekolah. Sedangkan aku melanjutkan belajarku di sbuah perguruan tinggi di jawa barat. Tak ada lagi kontak dan komunikasi diantara kami. Hingga sampai tiga tahun yang lalu, aku dengar dari adik kelasku semasa belajar di pesantren dulu, bahwa telah ada wanita lain yang minta dikhitbah olehnya. Pupus sudah semua harapanku padanya saat itu. Semua itu terkubur dalam di hatiku.
“Ka, ka, boleh masuk?”, Aini adiku memanggilku dari luar kamar.
“Iyah”, jawabku sambil menghapus sisa-sisa air mataku.
“Ka keluarga ka ihsan udah sampai tuh, dah di halaman.”
Terdendar suara gemuruh mobil memasuki halaman rumah memang. Hatikupun semakin bergetar tak karuan. Aku semakin tak bisa menahan air mataku.
“Ka, kenapa menangis?”, adiku yang tak tahu duduk peramasalahanya bertanya padaku.
“Ngga apa-apa sayang. kaka cuma gerogi ajah ko.”, jawabku bohong.
“Ka, jangan menangis nanti make-upnya luntur. nanti ka ihsanya ngga jadi lagi ngehitbahnya, ngga jadi punya kaka baru. hehe...”, candanya.
Ah, aku ngga peduli make-upku mau hancur kaya gimana juga. Aku malahan seneng kalau ka iihsan itu ngga jadi ngehitbah aku.hehe... pikirku dalam hati.
“ngga sayang...kaka khan cantik, biarpun make-upnya luntur, hati kaka ngga bakalan ikut luntur juga,tetep cantik. Jadi ka ihsanya juga ngga bakal ngebatalin.”, candaku menyembunyikan kesedihan.
“Iya deh, kakaku tersayang emang cantik lahir batin.”
“amiin...”
“Yuk ka ke bawah, kasihan keluarga ka ihsan nanti nunggunya lama.”
Aku pun berdiri dibantu adiku yang manis ini. Serasa tak ada sedikitpun tenaga untuk melangkah. Kakiku terasa lemas bagai tak bertulang. Tangan terasa tak punya daya tuk memegang apapun. Aku terus diam dalam gandengan tangan adiku menuju pintu kamar. Langkah kakiku begitu berat untuk sendiri melangkah keluar kamar. Huatiku terasa kosong , pikiranku entah kemana. Hanya hamparan padang rumput panas yang terlintas dalam pikiranku, yang begitu panas namun gelap. Tak ada seorang pun yang memyelamatkan dan menemukanku di sana. Akupun berjalan menuruni tangga bersama adiku. Aku berjalan sendirian di padang itu. Tak ada tempat untuk berlindung. Aku tak tahu harus melangkah ke mana. Adiku terus menuntunku. Hingga sampai tepat di siku tangga, aku lihat ibu tersenyum padaku. Sedang ayah berbincang-bincang dngan keluarga sang tamu terhormat. Aku melihat seorang laki-laki memakai jacket hitam, berambut cepak berbelah tengah memunggungiku. Apakah itu ka ihsan? Bukankah di foto rambutnya panjang. Tapi tak ku lihat ada laki-laki muda selain dia. Aku mulai ragu. Diakah orangnya? Kenapa aku seperti faham tegap bahunya. Dan aku juga seperti kenal gaya menengadah dan duduknya.
“Ka?”, adiku mengagetkanku yang berhenti secara tiba-tiba. “Ayoo ka...”, ajaknya lagi.
“Nanti dulu de ah, ngga enak ayah masih asyik ngobrolnya, nanti malah keganggu sama kehadiran kita.”
“Ngga apa apa ka, ibu udah nyuruh kita turun tuh.”
Aku pun menuruti saja perintah adiku. Aku memaksakan kakiku menuruni sisa-sisa anak tangga yang hanya tinggal lima lagi. Aku masih memikirkan orang yang memunggungiku itu. Siapakah dia, kenapa aku seperti mengenalnya. Tapi aku tak berani tuk menampakan wajahku. Aku tertunduk memandangi lantai rumahku yang berwarna pink. Ritme berjalanku terasa begitu lambat, tak seperti biasanya. Aku yang selalu berjalan cepat seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Inilah salah satu pembelajaran kedisiplinan keluargaku. Kami diharuskan untuk selalu bertindak cepat, tidak menunda-nunda sesuatu, dalam hal apapun.
Aku terus menyusuri anak tangga yang terakhir. Sampailah kami di ruangan tempat kedua keluarga berkumpul. Dan orang itu masih memunggungiku. Aku masih menunduk.
“Nah ini susan anaku, sarjana psikologi islam’, ayah memperkenalkanku.
Aku masih menunduk, tak berani melihat laki-laki itu. Aku hanya berani memandang dan tersenyum pada ibu sang tamu.
“oh iyah...wah cantiknya, sudah sedewasa ini. Ihsan pasti tidak akan menyesal sudah memilihnya.”, jawab sang ibu tamu.
“Alhamdulillah...”, jawab mamah. “ayo sini susan! Aini ajak kakamu ke sini.”
Akupun menghampiri ibu dan duduk di sebelahnya. Aku masih menunduk, belum berani untuk menatap laki-laki itu. Siapakah dia? Kenapa belum ada laki-laki lain yang datang. Benarkah laki-laki itu ka ihsan?
Syakauwtu ilaa wakiiri, suuu’a hifdzi. Wa’arsyadani ‘an ta’til maa’asyi....
Tiba-tiba terdengar nada dering lagunya Talib al-Habib, knowledge is light. Aku pun memberanikan diri untuk melihat, suara hp siapakah itu. Bukanya hp-ku di tinggal di kamar. kenapa sampai ke sini bunyi nada deringnya.
Namun saat aku mengedahkan wajahku. Aku tak tahu, apakah ini mimpi ataukah kenyataan. Dia yang beranjak meninggalakan ruangan untuk mengngkat telepon barusan. Dia yang tak berani aku lihat tadi. Dia yang ku kenal puggung dan bahunya.” Senyumnya....ya Alloh...senyum itu? Mimpikah aku?”, tanyaku dalam hati.
Dia, orang yang aku tunggu selama enam tahun. Yang ku kira sudah dimiliki oleh bidadari lain. Yang telah hilang entah ke mana. Yang ku kira aku telah kehilanganya untuk selamanya. Yang ku kira aku tak boleh untuk mengharapkanya lagi.
Ka Akmal, kaka kelasku saat masih aliyah dulu. Kita terpaut tiga tahun. Dia, orang yang membuatku mengerti akan makna cinta yang sebenarnya. Cinta yang hanya karena Alloh semata, tak mengharapkan nafsu. Dia yang selalu kucoba kubur dalam ingatanku. Kucoba tuk tidak memikirkanya lagi. Yang telah kucoba tuk mengikhlaskan keinginan orang tuaku.
Ya Alloh,,, apakah makna dari semua ini. Benarkah dia orangnya. Benarkah dia yang akan ayah jodohkan padaku. Bukankah rambutnya gondrong. Tapi jika diperhatikan, wajahnya memang ngga jauh beda dengan yang di foto. Namun, kenapa aku tak kenal bentuk hidung dan matanya, yang dulu sempat membuatku tak bisa tidur semalaman. Senyumnyalah yang membuatku mengingat semuanya,saat dia meninggalkan ruangan tadi. Senyum yang takan pernah luput dari ingatanku.
Benarkah dia orangnya. Orang yang akan menjadi imamku sampai akhir hayat nanti? Orang yang akan mengisi sisa umurku nanti. Insya Alloh.
“Kenapa ihsan, apa kata budemu?”, tanya Ibu Rosmina pada anaknya.
“Ngga apa-apa mah. Kata bude maaf ngga bias hadir, ada keperluan luar kota yang ngga bisa di tinggal.”, jawabmya.
“Oh iyah. Kamu bilang ngga apa-apa khan?”
“iyah mah.”
“ Ya udah pah, mulai ajah sekrang!”, perintah bu rosmina pada suaminya.
“Iyah mah.”, jawab sang suami.
Akhirnya sang ayah dari keluarga tamu pun mengungkapkan tujuan kedatangan mereka dengan singkat dan jelas.
Sekrang tibalah giliranku untuk menjawab tujuan mereka. Setelah sebelumnya ayah menjawab dengan sederhana, namun kemudian segala keputusan dikambalikan padaku.
“Bismillahirrohmaniirohiim. Dengan menyebut nama alloh yang maha sengalanya. Aku menerima khitbah ini dengan hati yang ikhlas.”, jawabku agak gugup.
“Alhamdulillah....”, semua serentak mengucapkan syukur setelah mendengar jawabanku. Termasuk ka akmal.
Setelah acara pengungkapan tujuan perkunjungan selesai, ayah pun mengajak semuanya untuk segera menyantap makan siang yang sudah ibu siapkan sejak pagi tadi.
***
Setelah selesai makan dan sholat, kedua kelurga pun berkimpul lagi di ruang tamu sekedar untuk ngobrol-ngobrol santai dan juga melepas kerinduan stelah bertahun-tahun terputus kominikasi. Sedangkan aku bersama ka akmal di beri kesempatan untuk negbrol di teras.
“Ade kaget yah?”, tanyanya mengawali obrolan kami dengan sapaan akrabnya padaku.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Ngga nyangka khan yang bakal datang itu kaka?”
“Iyah sih, beda banget ma yang di foto. Ade ajah ngga nyadar itu kaka. Udah berubah banget. Lagian, bukanya kaka itu ngga nglanjutin kuliah yah. Terus, dapat dari mana lagi namanya ihsan. Aneh banget.”, tanyaku panjang lebar sambil tersenyum.
“Iyah sih, awalnya emang kaka ngga ngelanjutin. Tapi pas stahun lebih kaka di pesantren, kaka ditawarin beasiswa. Ya udah kaka coba ajah. Terus kalau ihsan itu, sebenarnya nama kecil kaka, tapi ngga di masukin ke ijasah soalnya kepanjangan.hehe..”
“Siapa emnag namanya?”
“Masa lupa sih, nama kaka itu khan Muahammad Akmal Maulana Ihsani.”
“Iyah yah. Terus tentang gadis yang minta di khitbah sama kaka gimana?”
“Tahu dari mana ade tentang itu?”
“Ada deh. Tapi bener khan?”
“Iyah sih. Tapi khan ngga jadi, soalnya kaka waktu itu masih ingin focus kuliah. Jadi ngga bisa. Tapi ternyata dianya dah ngga bisa nunggu, ya udah kaka ikhlasin ajah. Akhirnya dia nikah duluan.”
“yah, kalau gitu berarti ade bukan yang pertama yah?”
“Kata siapa? Khan sekarang mah sudah jadi yang terakhir. Pertamanya khan dulu, akhirnya sekrang, dan tengah-tengahnya...mana tahu...hehe.”
“Iih...kaka...”, lakuku manja.
Alhamdulillah, beribu syukurku kepada Alloh yang maha pemberi kejutan. Yang telah menghadiahkan dirinya padaku. Semua moment indah ini takan pernah terhapus dalam memory kehidupanku. Semua terkabul saat keikhlasan itu telah menyatu dalam jiwa.
Hatiku kembali sejuk seperti daun-daun di dahan pohon yang telah tersirami oleh hujan pagi tadi. Love you...
By. Fu’ach
Harga Buku di Palasari Sudah Tidak Bersahabat Lagi
Kita tahu, Palasari
salah satu pasar buku terkenal di daerah Bandung, dan sempat juga menajadi
salah satu pasar buku terbesar se-Asia
Tenggara , (prakebakaran) itu, yang terkenal dengan hargannya yang cukup
ekonomis, tidak terlalu merogoh kantong, kini sudah tidak bersahabat lagi. Bagi
para mahasiswa khususnya, sekarang yang sudah mau masuk ke pertengahan
semester, masih banyak dari mereka yang belum mempunyai buku referensi
matakuliah. Kebanyakan dari mereka mengaku
bahwa harga buku di pasar Palasari hari ini justru malahan lebih mahal daripada di toko-toko lokal biasa, seperti
toko buku Kairo dan Iqro di pinggiran kampus UIN Sunan
Gunung Djati Bandung. Ternyata, setelah di ilik-ilik harganya tidak jauh
berbeda, malahan kadang lebih murah dan tidak terlalu merogoh kantong para mahasiswa. Namun, namanya
juga toko lokal jadi tidak selengkap pasar. Jadi mereka pun harus mencarinya ke
pusat.
Ini membuat
para mahasiswa dan anak-anak sekolah umumnya menjadi kurang dalam pelengkapan
buku-buku referensi ataupun mata pelajaran. Bahkan masyarakat biasa yang juga
sebagai penikmat buku menurun, yang berpengaruh juga terhadap penurunan minat
baca di Indonesia ini.
Selain itu
juga, di dalam pasar tersebut ada salah satu grosir buku yang paling ramai
dikinjungi pengunjung, terkenal dengan nama BBC (Bandung Book Center). Tempat
ini merupakan salah satu tempat favorit pengunjung jika sedang berkunjung ke
pasar palasari ini, karena persediaan
bukunya yang lengkap. Namun sayang sekali tempatya kurang nyaman, begitu sempit
dan sesak oleh buku dan juga pengunjung yang tidak tertadah. Mungkin jika ada
salah satu pengunjung yang mempunyai masalah dalam pernafasanya, bisa kumat di
situ.
Maka dari itu,
bagi pihak yang berkait untuk memperhatikan tempat-tempat yang memang menajdi pilihan
kebanyakan pengunjung, untuk bisa memperluas tempatnya, agar bisa lebih nyaman lagi
jika berada di dalamnya. Juga, bagi para penjual buku di Palasari, mohon untuk
mempertimbangkan lagi tentang harga buku-buku sekarang ini. Takut nantinya
pasar buku Palasari yang dulunya terkenal murah dan lengkap, hingga banyak
orang dari daerah lain yang datang berkunjung, tapi saat sudah di tempatnya
malahan kecewa karena tidak sesuai dengan harapan, malahan bisa berakibat buruk
bagi kredibilitas pasar tersebut.
Terimakasih.
Siti Maftuhah
(3207356207910002)
085795109808
Siswa SMPR
Jalan Desa Cipadung
No.1 Rt. 03/08 Cipadung-Cibiru-Bandung
Nama :
Siti Maftuhah
Kampus : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
SUMBER SEGALA DOSA
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiga
hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap
ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan
menjadikan iblis enggan tuk bersujud kepada Adam. Dan hati-hatilah terhadap tamak
(rakus), karena ketamakan mengantarkan Adam untuk memakan buah yang
telah dilarang oleh Alloh, yaitu buah khuldi. Dan berhati-hatilah terhadap iri
hati (dengki), karena kedengkian kedua anak Adam, Qabil dan Habil,
salah seorang diantaranya membunuh saudaranya akibat dorongan dari iri hati.”
(H.R. Ibn ‘Asakir melalui Ibn Mas’ud).
Dari hadis di atas kita tahu bahwa
ketiga hal yang harus dihindari itu beberapa dari banyak sifat-sifat tercela
yang sangat dibenci oleh Alloh, karena ketiganya itu bisa menjerumuskan manusia
ke dalam kesesatan. Maka dari itu nabi Muhammad pun menjelaskan dalam hadisnya,
agar umatnya tahu dan berhati-hati akan tiga hal tadi.
Yang pertama yaitu angkuh. Orang yang angkuh atau sombong adalah
orang yang merasa bangga akan dirinya sendiri. Sebenarnya tidak masalah orang
bangga pada diri sendiri, malahan bagus bisa menjadi motivasi bagi dirinya
maupun orang lain untuk bisa lebih baik lagi. Namun jika dengan kebanggaan itu
orang jadi sombong dan menganggap rendah orang lain, maka hal itulah yang tidak
diperbolehkan oleh agama. Karena, selain berdosa kesombongan itu juga bisa
membawa bencana bagi orang yang sombong tadi. Seperti sebuah kecelakaan yang
tiba-tiba karena murka Alloh (naudzubillah), ataupun encana yang berupa sebuah
perasaan atau sikap tidak enak dari orang-orang sekitar kita. Karena sudah
barang tentu, orang yang sombong pasti akan dibenci oleh orang lain.
Dari kesombongan itu, nantinya akan muncul sikap rakus, tidak
pernah mau mengalah pada orang lain, dan ingin selalu menguasai apa yang ada.
Namun, jika dia tidak berhasil meraihnya, malahan ada orang lain entah
sahabatnya atau siapapun yang sukses dan lebih maju darinya, maka akan timbul
perasaan iri dan dendam dalam dirinya. Sungguh semua itu adalah sumber dari
segala dosa. Maka dari itu, kita harus senantiasa hati-hati dalam menjaga hati
kita agar tidak terpengaruh ataupun termasuki virus-virus dosa itu.
Apa yang akan
kamu lakukan untuk memebuat hidup mu berubah mencapai 180 drajat ???
Hidup berubah 180 derajat? Mungkin ngga yah...???
Segala yang ada di dunia ini mungkin,
kecuali untuk memjadi tuhan. Hehe... Lalu apa yang bakal kita lakukan untuk merubah
hidup kita menjadi berubah 180 derajat lebih baik daripada sebelumnya?
Pertama mungkin kita harus bisa
mengintropeksi diri kita, menyadari segala kekurangan dan kesalahan kita.
Karena dengan menyadari hal-hal seperti itu, bisa membuat kita tahu apa yang
seharusnya kita rubah. Kalau ngga tahu, apa yang bakal kita rubah. Iyah khan?
Da juga yang bilang, untuk bikin kehidupan kita berubah
180 drajat itu nikah sama orang yang bener kita cintai. Bener ngga tuh
statement kaya gitu?
Mungkin kalau orang yang kita cintai juga mencintai kita
itu bisa jadi bener, tapi kalau ngga gimana. Misal nih, orang yang kita cinta
tuh Cuma pura-pura mencintai kita, gara-garanyaemang kita dijodohin, atau emang
dia tuh kasihan lihat kita yang begitu tegila-gila sama dianya. Kalau masih
gitu mah ngga apa-apa,cowonya masih bisa dianggap baik, tapi pas giliran si
cowo itu Cuma manfaatin kita gimana. Dia malah mainin hati kita yng bener-bener
sayang and cinta sama dia. Huft!!! Malang banget nasib kita.
Maka dari itu, kita tu emang ngga dibolehin sama Alloh
buat mencintai apa aajah yang ada di dunia ini, melebihi cinta kitasama Alloh.
Karena Alloh itu udah maha segalanya, dia ngga bakal pernah nyakitin kita
sebagai hambanya. Saat kita mencintai beliau, dia akan lebih mencintai kita, tapi
saat kita lupa dan tidak peduli dengan keadaanya, dia tetp sayang and nyurahin
kasih sayangnya sama kita. Tapi kita malahan nyuekin keadanya. Jahat banget
ngga sih kita. Padahal nih, pada kenyataanya kitayang butuh dengan Dia, tapi
kenapa kta yang malahan jahat sama Alloh. Ini sifat asli manusia, mereka semua
egois, hanya mau diperhatikan ajah, tapi ngga mau merhatiin.
Maka dari itu, untuk membuat hidup kita berubah seratus delapan puluh derajat,
kita harus mencintai Alloh tuhan kita dengan sepenuh hati dan juga ikhlas.
Emang sih kita pasti dah punya seseorang yang udah bener-bener kita cintai,
tapi dalam mencintai dia , kita juga ngga bolaeh lupa akan cinta kita sama
Alloh. Kita kudu bisa menata and membagi hati kita, kapan kita kudu cinta sama Alloh, kapan kita bisa cinta sama
dia. Tapi saat kita lagi berduaan sama dia juga ngga boleh lupa sama Alloh.
Karena dengan kita ingat sama Alloh, itu bakal ngejaga kita dari hal-hal yang
emang ngga baik, yang emang larangan di masyarakat umum dan juga agama. Kita
bakal ngrasa da yang merhatiin, jafdi kita ngga bakalan sembarangan dalam
berbuat apapun.
Nah, dari hal itulah, kita insya alloh bisa jadi hamba
alloh yang baik, yang dengan itu, bisa ngerubah kehidupan kita 180 derajat
lebih baik daripada sebelumnya. Kita bisa ikhlas dalam menerima segala hal yang
tuhan berikan sama kita, biarpun itu kadankala ngga sesuai dengan apa yang kita
penginin. Tapi saat kita ihlas dan tetap bersyukur, insya alloh apa yang udah
dikasihin itu bakal berubah menjadi sesuatu yang emang kita harepin, malahan
itu teh lebih dari apa yang kita mau. Tapi semua itu hanya akan terasa di
akhir, saat kita sudah melewati proses sabar dan bersyyukur itu. Tapi kebanykan
orang tidak bisa melewati proses itu, mereka kalah di pertengahan babak, yang
hingga akhirnya semua yang dia miliki akan menjadi penderitan buat kehidupanya,
karena dia belum bisa menrimanya. Naudzubillahimindzalik...
Jadi, dalam hidup ini, kita harus senantiasa ikhlas hanya
mengharap ridho Alloh dan tetap bersyukur atas apa yang telah kita miliki, yang
udah Alloh berikan buat kita. Kaya lagu D’massive “syukuri apa yang ada, hidup
adalah anugerah, tetap jalani hidup ini,
mlakukan yang terbaik. Jangan menyerah. Jangan menyerah, jangan menyerah”
Jadi tetap semangat dan terus jaga cinta kita dengan
sebaik-baiknya. Xey!!!
Wassalamm...:))
By. fU’aCh
WAKTU=TIME.....???
Waktu? Emang apaan sih waktu itu?
Pastinya kita pada ngga aneh khan dengan
kata waktu ini. Satiap hari kita hidup
ini bersama dengan waktu, tanpa waktu ngga bakalan ada kehidupan di
dunia ini. Karena dalam hidup kita ditentukan oleh waktu. Sampai kiamat pun ada
waktunya. Lalu gimana nih cara kita membuat waktu itu biar ngga jadi sesuatu
yang sia-sia?
Di sini aku fu’ah bakalan nuliis tentang
waktu yang ada kaitanya sama sholat duha. Tahu khan?
Kita pasti tahu and hafal surat A-Duha khan?
Nah, surat ad-duha ini diturunkan sama
Alloh waktu itu berkaitanenj dengan
kejadian yang saat itu Alloh lagi menjeda dulu menurunkan wahyunya. Nah, saat
itu kesempatan ini dijdikan ajang sama orang-orang kafir buat mengolok-olok
nabi kita Muhammad SAW, beliau diolok-olok bahwa wahyu Alloh sudah ngga turun
lagi sama beliau, akhirnya beliaupun sedih. Akhirnya, karena Alloh itu maha
penyayang dan tidak mau melihat kekasihnya bersedih, dia menurunkan wahyunya
yang berbunyi dalam QS. Ad-Duha ayat 1-3, yang artinya:
“Demi waktu saat matahari naik sepenggalan.
Dan demi malam apabila telah
. Tuhanmu itu tidak meninggalkan kamu dan
tidak pula benci kepadamu.”
Dari ayat itu dijelaskan bahwa Alloh itu
selalu menyertai kita, kapanpun dan di manapun. Dari ayat yang pertama kittahu
bahwa itu adalah waktu duha dimana kita sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas
kita. Alloh mengingatkan kita untuk beristirahat sejenak, untuk mengingatnya.
Selain itu juga, dalam sholat duha itu Alloh memberika balasan kepada kita
bahwa dua rookaat sholat duha itu sama halnya dengan kita bersodaqoh pada
sendi-sendi dalam tubuh kita sebanyak 1000 kali lipat. Sedang sandi dalam tubuh
kita itu berjumlah 360, jadi jika dikalikan 1000 menjadi 360.00 per hari. Nah
itu hanya dua rakaat, yang tidak memerlukan waktu yang lama, apalagi jika
lebih. Pasti lebih banyak lagi,coba dihitung yah.
Jadi, selain kita dianjurkan bersodakoh
sama fakir miskin, kita juga dianjurin buat sodaqoh sama sendi-sendi yang ada
dalam tubuh kita, yang selalu membantu kita dalam bekerja, beraktivitas, dan
beribadah sehari-hari.
Di ayat kedua kita juga diingetin buat
mengingat Alloh di malam yang sudah sunyi dan hening, karena pada saat-saat
itulah malaikat alloh turun ke bumi untuk memberikan rahmat Alloh pada mereka
yang terjaga saat itu. Karena pada saat seperti itulah kita bisa khusyu dan
sungguh sungguh dalam berkomunikasi dngan Alloh. Hingga kahirnya kita bisa
merasakan ketenangan yang luar biasa.
Dari ayat yang ketiga, kita diberitahu oleh
alloh bahwa dirinya tidak pernah meninggalakan kita, Dia selalu ada mneyertai
kita, kapanpun dan di manapun. Saat kita mendekat kepada alloh sejengkal saja,
alloh mendekat pada kita satu depa atau sepanjang tangan kita. Saat kita
mendekat pada Alloh dengan berjalan, Alloh mendekat kepada kita dengan berlari.
Begitulah cinta Alloh kepada hambanya, dua kali lipat cinta kita pada Alloh.
Begitu maha penyayangnya Alloh.
Maka, dari semua penjelasan itu, kita
diperingatkan untuk selalu menjadikan waktu kita menjadi sesuatu yang berharga,
agar tidak menjadi sia-sia. Juga, kita diingatkan untuk senantiasa ditemui olah
Alloh. Kata ditemui ini berarti bahwa mita harus bisa menjadi hamba Alloh yang
layak untuk disapa dan ditemui oleh Alloh tuhan kita. Karena jika kita yang
mencari dan menemuinya itu begitu sulit, karen Dia begitu maha besar dan maha
segalanya, sehingga kita mungkin tidak mempu untuk menemuinya. Mka dari itu
kita harus menjadi hambanya yang layak dan pantas walaupun hanya sekedar disapa
olhhNya. Amiin...
“Jadiknlah waktumu sebagai
sesuatu yang dapat kau manfaatkan. Dan
janganlah kamu dinmanfaatkan
oleh waktumu.”
Wassalaam...:))
By.
fU’aCh
gaptek!!! what the meaning of GAPTEK???
iiih....g banget deh. tahun 2011 gitu lho masih gaptek. makamya nih, biar ngga gaptek, ada beberpa cara yang bisa diikutin. perhatiin yah....
1. kita kudu bisa lebih berani wat nglakuin segala hal tu secara mandiri
2. sering-sering ke warnet kalau kita emang belum punya komputer atau laptop
3. sering bergaul sama orang luar, tong sok kakurung ku batok. hehe...
4. kita kudu sering ikut seminar-seminar gitu. cari yang gratis ajah, banyalk ko...
5. ikutan kursus, apa ajah, utamanya english sama arabic and juga komputer
6. ikut organisasi
7. yaang terakhir nih, jangan gengsi wat berteman ma siapaun.
insya Alloh yah, kalau kita bisa ngelaksanain tips-tips yang di atas itu, kita ngga bakalan jadi orang yang GAPTEK alias Gagap Tekhnologi. Dua ribu sebelas bUu...hehe
Tuesday, 15 march “11
Ikhlaskah kita jika dalam ibadah
kita mengharapkan surga???
Ikhlas itu apa sih sebenernya? Kalau menurut arti yang
dah populer sih khlas itu hanya mengharap ridho alloh. Karena kalau menurut
bahasa, ikhlas itu berasal dari kata khalasha-yakhlusu yang artinya murni atau
bersh. Jadi dalam melakukan apapun termasuk ibadah pastinya kita kudu ikhlas,
murni, bersih hanya mengharap ridho Alloh, ngga ngeharap yang lainya. Karena
dalam salah satu hadis kudsi yang diriwayakan sama imam muslim juga disebutkan
bahwa Alloh itu ngga suka dsekutukan sama apapun dan siapaun, karena alloh itu
adalah dzat yang maha segalanya, dan juga esa. Alloh bakal ninggalin hambanya
yang menyekutukanya dan juga apa yang disekutukanya itu. Jadi kita kudu
hati-hati dalam niat dan tujuan pas mau nglakuin apapun. Lalu gimana kalau dalam beribadah kita
mengharapkan surga? Ikhlas ngga kita?
Sebenarnya, dalam beribadah itu ada tingkatan-tingkatanya
sendiri. Tingkatan yang pertama itu terpaksa, terus berlanjut dengan
mengharapkan imbalan atas ibada kita, dan tingkat yang paling tinggi itu
tingkat ikhlas hanya mengharap ridho Alloh.
Nah, pas tingkat pertama ini, ditujukan bagi anak kecil
yang udah masuk ke tahun yang harus udah diajarin wa ibadah. Jadi dia dipaksa
unttuk belajar sholat. Kemudian sampai dia umur sepuluh tahun dia harus sudah
lebih dipaksa untuk beribadah. Agar anak-anak itu luluh dan nurut, akhirnya
orang tua menjanjikan sesuatu untuk jadi imbalanya. Imbalan itu bisa berupa
apapun, termasuk cerita-cerita tentang surga sekalipun. Lalu gimana dengan kita
yang k daludah melewati masa baligh, apakah kita masih pantas ibadah itu
dilakukan hanya untuk mengharap surga?
Jadi, tidak ada salahnya kalau dalam beribadah kita
mengharapkan surga. Namun karena ita sudah tahu, kita juga harus meluruskan
lagi niat kita. Bahwa kita mengharapkan surga karena kita tahu bahwa surga itu
adalah salah satu mahluk ciptaan alloh yang telah Alloh janjikan buat kita esok
di Akhirat jika kita termasuk orang yang beriman. Jadi jika sudah demikian,
jadikanlah surga itu sebagai motivasi kita dalam beribadah agar kita bisa mearaih
rahmat alloh, dan Alloh dengan kasih sayangnya itu menempatkan atau memberikan
surga itu bagi kita, bersam dengan orang-orang beriman yang lain. Amiin....
“Robbana atina fiddunya hasaanah, wafil akhirati hasanah
waqina ‘adzaban naar...”
Wassalaamm...:))
By. fU’aCh
Subscribe to:
Posts (Atom)
